Pengalaman Kesiapan Menghadapi Tantangan

Pada saat saya SD, saya sangat trauma mengikuti perlombaan baca puisi. Pada saat itu saya berkeringat dingin dan bergemetar di depan juri. Mulai saat itulah saya traua terhadap perlombaan baca puisi.

Ketika waktu saya kelas 8 MTs, saya ditawari mewakili sekolah di perlombaan baca puisi, pada saat itu juga saya menolaknya. Tetapi guru bahasa indonesia saya (Ibu Ninih) bersikeras membujuk saya untuk mengikuti perlombaan itu, hingga akhirnya sayapun mau. setiap hari, baik di sekolah maupun di rumah beliau, kita selalu latihan. Saya selalu merasa kalau pembacaan puisi saya tidak bagus, tetapi beliau mengatakan kalau pembacaan puisi saya bagus, baik dari segi pelafalan, intonasi, gimik muka, gestur tubuh, dll.

Pada waktu perlombaan saya sangat merasa gugup, tetapi karena ibu ninih selalu menyemangati saya, rasa gugup itupun perlahan menghilang. Siang harinya ada pengumuman kalau saya menjadi juara dan lanjut ke tingkat berikutnya.

Di tingkat berikutnya kita latihan rutin seperti biasa. Hingga saat pada lomba dan di pengumumannya saya tidak lolos ke tingkat berikutnya.

Tetapi saya tetap bangga karena saya dapat menghilangkan trauma saya, dah saya juga bangga telah mendapat pengalaman yang sangat berharga. Terimakash Ibu Ninih

By fajarlicious

ADVERSITY QUOTIENT

Setiap manusia diberikan keistimewaan oleh Tuhan, yaitu memiliki akal dan pikiran. Manusia disebut sebagai makhluk sempurna karena memiliki 2 hal ini.
Setiap akal dan pikiran akan menimbulkan suatu hal yang ajaib dan mengagumkan yang pernah ada, hal itu adalah sebuah kecerdasan. Pada kali ini saya akan membahas tentang adversity quotient atau kecerdasan dalam menghadapi tantangan.

Cerdas (IQ) saja belum tentu bisa sukses.  Matang secara emosionalpun  (EQ) demikian.  Ada satu lagi faktor utama : AQ (Adversity Quotient).  AQ adalahkecerdasan yang dimiliki seseorang dalam mengatasi kesulitan dan sanggup untuk bertahan hidup.

Fakta menunjukkan bahwa anak cerdas (IQ tinggi) belum tentu bisa sukses.Ada kasus seorang anak bernama Ted Kaczynski yang begitu cerdas sehingga dialulus dari Harvard University dalam usia 20 tahun dan meraih doktor dalam ilmu matematika.  Profesi sebagai dosen di Harvard ditinggalkannya ketika dia tertarik pada teknologi bom.  Kejeniusannya akhirnya membuat dia terpuruk di penjara karena dia menewaskan dua orang dan mencederai 22 orang lainnya. Selain itu ada penelitian menunjukkan bahwa pemilik perusahaan umumnya adalah orang yang drop-out dari pendidikan, tetapi para eksekutif di bawahnya adalah mereka yang berpendidikan tinggi dan terpelajar.  Stoltz menyimpulkan bahwa ada faktor lain berpengaruh dalam kesuksesan seseorang :  AQ.  Dengan AQ, seseorang diukur kemampuannya dalam mengatasi setiap persoalan hidup. Faktor dominan pembentuk AQ adalah sikap pantang menyerah. AQ akan menjadi faktor penentu sukses, jika orang lain gagal, sementara kesempatan dan peluang yang dimiliki sama.

            Masih ingat cerita Thomas Alva Edison (1847 – 1931) ??? Ia akhirnya berhasil menemukan bohlam lampu setelah melewati sekitar 50.000 percobaan dan bekerja selama 20 tahun. Tak heran kalau ada yang  bertanya, “Mr. Edison, Anda telah gagal 50.000 kali, lalu apa  yang membuat Anda yakin bahwa akhirnya Anda akan berhasil?” Secara spontan Edison langsung menjawab, “Berhasil? Bukan hanya berhasil, saya telah mendapatkan banyak hasil. Kini saya tahu 50.000 cara yang tidak berfungsi!” Wow, sebuah pernyataan yang sangat luar biasa. Kegagalan menurut orang lain dianggapnya sebagai sebuah keberhasilan.

            Apakah adversity quotient (AQ) itu? Menurut Stoltz, AQ adalah kecerdasan untuk mengatasi kesulitan. “AQ merupakan faktor yang dapat menentukan bagaimana, jadi atau tidaknya, serta sejauh mana sikap, kemampuan dan kinerja Anda terwujud di dunia,” tulis Stoltz. Pendek kata, orang yang memiliki AQ tinggi akan lebih mampu mewujudkan cita-citanya dibandingkan orang yang AQ-nya lebih rendah.

            Jawaban luar biasa dari pencipta lampu pijar itu menjadi salah satu contoh ekstrem seorang climber (pendaki)–yang dianggap memiliki kecerdasan mengatasi kesulitan (adversity quotient, AQ) tinggi. Terminologi AQ memang tidak sepopuler kecerdasan emosi (emotional quotient) milik Daniel Goleman, kecerdasan finansial (financial quotient) milik Robert T. Kiyosaki, atau kecerdasan eksekusi (execution quotient) karya Stephen R. Covey. AQ ternyata bukan sekadar anugerah yang bersifat given. AQ ternyata bisa dipelajari. Dengan latihan-latihan tertentu, setiap orang bisa diberi pelatihan untuk meningkatkan level AQ-nya. Manusia sejati adalah manusia yang jika menempuh perjalanan yang sulit, mereka selalu optimis; sedangkan jika mereka melewati perjalanan yang mudah mereka malah khawatir.

Dalam kehidupan nyata, hanya para climbers-lah yang akan mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan sejati. Sebuah penelitian yang dilakukan Charles Handy-seorang pengamat ekonomi kenamaan asal Inggris terhadap ratusan orang sukses di Inggris memperlihatkan bahwa mereka memiliki tiga karakter yang sama. Yaitu, pertama, mereka berdedikasi tinggi terhadap apa yang tengah dijalankannya. Dedikasi itu bisa berupa komitmen, kecintaan atau ambisi untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik. Kedua, mereka memiliki determinasi. Kemauan untuk mencapai tujuan, bekerja keras, berkeyakinan, pantang menyerah dan kemauan untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Dan ketiga, selalu berbeda dengan orang lain. Orang sukses memakai jalan, cara atau sistem bekerja yang berbeda dengan orang lain pada umumnya. Dua dari tiga karakter orang sukses yang diungkapkan Handy dalam The New Alchemist tersebut erat kaitannya dengan kemampuan seseorang dalam menghadapi tantangan

Dalam dunia kerja, mengapa para karyawan yang ber-IPK tinggi kalah bersaing dibandingkan para karyawan lain yang ber-IPK rendah tetapi lebih berani dalam bertindak?

 

 

A.    DEFINISI KECERDASAN ADVERSITY
Secara umum, kecerdasan dapat dipahami pada dua tingkat. Pertama, kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kedua, kecerdasan sebagai sebuah kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang dihadapi oleh seseorang dapat segera dipecahkan (problem solved), dan dengan demikian pengetahuan pun menjadi bertambah (Fanani, 2005).

Berdasarkan dua pengertian di atas, dapat dipahami dengan mudah bahwa kecerdasan merupakan pemandu (guide) bagi individu untuk mencapai berbagai sasaran dalam hidup yang dijalaninya secara efektif dan efisien. Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi-strategi pencapaian sasaran yang jauh lebih baik daripada orang yang kurang cerdas. Artinya, orang cerdas sepantasnya lebih sukses dibanding orang yang kurang cerdas (Fanani, 2005).

Konsep tentang kecerdasan adversity atau adversity intelligence (AI) dibangun berdasarkan hasil studi empirik yang dilakukan oleh banyak ilmuwan serta lebih dari lima ratus kajian di seluruh dunia, dengan memanfaatkan tiga disiplin ilmu pengetahuan, yaitu psikologi kognitif, psikoneuroimunologi, dan neurofisiologi. Kecerdasan adversity memasukkan dua komponen penting dari setiap konsep praktis, yaitu teori ilmiah dan aplikasinya dalam dunia nyata. Konsep kecerdasan adversity pertama kali digagas oleh Paul G. Stoltz (Jaffar, 2003).

Menurut Stoltz (2005), pengertian kecerdasan adversity tertuang ke dalam tiga bentuk, yaitu: pertama, kecerdasan adversity sebagai suatu kerangka kerja konseptual yang baru yang digunakan untuk memahami dan meningkatkan semua segi kesuksesan. Kedua, kecerdasan adversity sebagai suatu ukuran untuk mengetahui reaksi seseorang terhadap kesulitan yang dihadapinya. Ketiga, kecerdasan adversity sebagai seperangkat peralatan yang memiliki landasan ilmiah untuk merekonstruksi reaksi terhadap kesulitan hidup. Agar kesuksesan menjadi nyata, maka Stoltz (Kusuma, 2004) berpendapat bahwa kombinasi dari ketiga unsur tersebut yaitu pengetahuan baru, tolok ukur, dan peralatan yang praktis merupakan sebuah kesatuan yang lengkap untuk memahami dan memperbaiki komponen dasar dalam meraih sukses.

Berbeda dengan Stoltz, Mortel (Kusuma, 2004) berpandangan bahwa makin besar harapan seseorang terhadap dirinya sendiri, maka makin kuat pula tekadnya untuk meraih kesuksesan dan keberhasilan dalam hidup. Maxwell (Kusuma, 2004) mengatakan bahwa ketekunan yang dimiliki oleh seseorang akan memberinya daya tahan. Daya tahan tersebut akan membuka kesempatan baginya untuk meraih kesuksesan dalam hidup.


Secara garis besar konsep kecerdasan adversity menawarkan beberapa manfaat yang dapat diperoleh, yaitu:
1.    kecerdasan adversity merupakan indikasi atau petunjuk tentang seberapa tabah seseorang dalam menghadapi sebuah kemalangan.
2.    kecerdasan adversity memperkirakan tentang seberapa besar kapabilitas seseorang dalam menghadapi setiap kesulitan hidup dan ketidakmampuannya dalam menghadapi kesulitan.
3.    kecerdasan adversity memperkirakan siapa yang dapat melampaui harapan, kinerja, serta potensinya, dan siapa yang tidak.
4.    kecerdasan adversity dapat memperkirakan siapa yang putus asa dalam menghadapi kesulitan dan siapa yang akan bertahan (Stoltz, 2005).


Stoltz (2005) menambahkan bahwa individu yang memiliki kemampuan untuk bertahan dan terus berjuang dengan gigih ketika dihadapkan pada suatu problematika hidup, penuh motivasi, antusiasme, dorongan, ambisi, semangat, serta kegigihan yang tinggi, dipandang sebagai figur yang memiliki kecerdasan adversity yang tinggi, sedangkan individu yang mudah menyerah, pasrah begitu saja pada takdir, pesimistik dan memiliki kecenderungan untuk senantiasa bersikap negatif, dapat dikatakan sebagai individu yang memiliki tingkat kecerdasan adversity yang rendah. Werner (Stoltz, 2005), dengan didasarkan pada hasil penelitiannya mengemukakan bahwa anak yang ulet adalah seorang perencana, orang yang mampu menyelesaikan masalahnya dan orang yang mampu memanfaatkan peluang. Orang yang mengubah kegagalannya menjadi batu loncatan mampu memandang kekeliruan atau pengalaman negatifnya sebagai bagian dari hidupnya, belajar darinya dan kemudian maju terus.

 


B.    PENGERTIAN ADVERSITY QUOTIENT (AQ)

AQ adalah kecerdasan untuk mengatasi kesulitan. “AQ merupakan faktor  yang dapat menentukan bagaimana, jadi atau  tidaknya,  serta  sejauh  mana sikap, kemampuan dan kinerja Anda terwujud di dunia,” Menurut Stoltz, orang yang memiliki AQ tinggi akan lebih mampu mewujudkan  cita-citanya dibandingkan orang yang AQ-nya lebih rendah.
Untuk  memberikan gambaran, Stoltz meminjam  terminologi  para pendaki gunung. Dalam hal ini, Stoltz membagi para pendaki gunung menjadi tiga bagian:

Profil Quitter, Camper, dan Climber

Profil Ciri, Deskripsi, dan Karakteristik

1.Quitter adalah para pekerja yang  sekadar untuk bertahan hidup. Mereka ini gampang putus asa dan menyerah di tengah jalan.

 

  • Menolak untuk mendaki lebih tinggi Lagi
  • Gaya hidupnya tidak menyenangkan atau datar dan tidak “lengkap”
  • Bekerja sekedar cukup untuk hidup
  • Cenderung menghindari tantangan berat yang muncul dari komitmen yang sesungguhnya 
  • Jarang sekali memiliki persahabatan yang sejati
  • Dalam menghadapi perubahan
  • Mereka cenderung melawan atau lari dan cenderung menolak dan menyabot perubahan
  • Terampil dalam menggunakan katakata yang sifatnya membatasi, seperti tidak mau”, “mustahil”, “ini konyol”dan sebagainya.
  • Kemampuannya kecil atau bahkan tidak ada sama sekali; mereka tidak memiliki visi dan keyakinan akan masa depan, kontribusinya sangat kecil.

 


2. Camper (berkemah di tengah  perjalanan) Para   camper  lebih baik, karena  biasanya  mereka  berani melakukan pekerjaan yang berisiko, tetapi tetap mengambil  risiko yang  terukur dan aman. “Ngapain capek-capek” atau“segini juga udah cukup” adalah moto para campers. Orang-orang ini sekurang-kurangnya sudah merasakan tantangan, dan selangkah lebih maju dari para quitters. Sayangnya banyak potensi diri yang tidak teraktualisasikan, dan yang jelas pendakian itu sebenarnya belum selesai.   

 

  •  Mereka mau untuk mendaki, meskipun akan “berhenti” di pos tertentu, dan merasa cukup sampai disitu.
  • Mereka cukup puas telah mencapai suatu tahapan tertentu (satisficer)
  • Masih memiliki sejumlah inisiatif,sedikit semangat, dan beberapa usaha.
  •  Mengorbankan kemampuan individunya untuk mendapatkan kepuasan, dan mampu membina hubungan dengan para camper lainnya
  • Menahan diri terhadap perubahan, meskipun kadang tidak menyukai perubahan besar karena mereka merasa nyaman dengan kondisi yang ada
  • Mereka menggunakan bahasa dan kata-kata yang kompromistis,misalnya, “ini cukup bagus”, atau “kita cukuplah sampai di sini saja” Prestasi mereka tidak tinggi, dan kontribusinya tidak  besar juga
  • Meskipun telah melalui berbagai rintangan, namun mereka akan berhenti juga pada suatu tempat dan mereka “berkemah” di situ

 


3.    Climber  yakni  mereka,  yang dengan segala keberaniannya menghadapi risiko, akan  menuntaskan pekerjaannya. Mereka mampu menikmati proses menuju keberhasilan, walau mereka tahu bahwa akan banyak rintangan dan kesulitan yang menghadang. Namun, di balik kesulitan itu ia akan mendapatkan banyak kemudahan.”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

 

  • Mereka membaktikan dirinya untuk terus “mendaki”, mereka adalah pemikir yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan
  • Hidupnya “lengkap” karena telah melewati dan mengalami semua tahapan sebelumnya. Mereka menyadari bahwa akan banyak imbalan yang diperoleh dalam jangka panjang melalui “langkah-langkah kecil” yang sedang dilewatinya
  • Menyambut baik tantangan, memotivasi diri, memiliki semangat tinggi, dan berjuang mendapatkan yang terbaik dalam hidup; mereka cenderung membuat segala sesuatu terwujud
  • Tidak takut menjelajahi potensi-potensi tanpa batas yang ada di antara dua manusia; memahami dan menyambut baik risiko menyakitkan yang ditimbulkan karena bersedia menerima kritik
  • Menyambut baik setiap perubahan, bahkan ikut mendorong setiap perubahan tersebut ke arah yang positif
  • Bahasa yang digunakan adalah bahasa dan kata-kata yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan; mereka berbicara tentang apa yang bisa dikerjakan dan cara mengerjakannya; mereka berbicara tentang tindakan, dan tidak sabar dengan kata-kata yang tidak didukung dengan perbuatan
  • Memberikan kontribusi yang cukup besar karena bisa mewujudkan potensi yang ada pada dirinya
  • Mereka tidak asing dengan situasi yang sulit karena kesulitan merupakan bagian dari hidup

 

Dalam konteks ini, para climber dianggap memiliki AQ tinggi. Dengan kata lain, AQ membedakan antara para climber, camper, dan  quitter . jawaban luar biasa dari pencipta lampu pijar (Thomas Alfa Edison) itu menjadi salah satu  contoh  ekstrem seorang climber (pendaki) yang dianggap memiliki kecerdasan mengatasi kesulitan (adversity quotient, AQ) tinggi. Terminologi AQ memang tidak sepopuler kecerdasan  emosi (emotional  quotient) milik Daniel Goleman, kecerdasan  finansial  (financial  quotient) milik Robert T. Kiyosaki, atau kecerdasan eksekusi (execution quotient) karya Stephen R. Covey.AQ ternyata bukan sekadar anugerah yang bersifat  given. AQ ternyata bisa dipelajari. Dengan latihan-latihan  tertentu, setiap orang  bisa diberi pelatihan untuk meningkatkan level AQ-nya.


Para climber, Menurut Maxwell (Kusuma, 2004) setidaknya ada tujuh kapasitas yang dibutuhkan untuk mengubah kegagalan menjadi batu loncatan, yaitu:
1.    Para peraih prestasi pantang menyerah dan tidak pernah jemu untuk terus mencoba karena tidak mendasarkan harga dirinya pada prestasi
2.    Para peraih prestasi memandang kegagalan sebagai sesuatu yang nisbi sifatnya
3.    Para peraih prestasi memandang kegagalan-kegagalan sebagai insiden-insiden tersendiri
4.    Para peraih prestasi memiliki ekspektasi yang realistis
5.    Para peraih prestasi memfokuskan perhatian pada kekuatan-kekuatannya
6.    Para peraih prestasi menggunakan multi pendekatan dalam meraih prestasi
7.    Para peraih prestasi mudah bangkit kembali.


Stoltz (2005) mengajukan beberapa faktor yang diperlukan untuk mengubah kegagalan menjadi suatu peluang yaitu daya saing, produktivitas, kreativitas, motivasi, mengambil risiko, ketekunan, belajar, merangkul perubahan, dan keuletan. Ditambahkan juga bahwa dalam menghadapi setiap kesulitan, kesedihan serta kegagalan hidup maka yang diperlukan adalah sikap tahan banting dan keuletan .

Pannyavaro (2006) menyatakan bahwa kesulitan hidup jika dihadapi, disadari, akan menjadi sesuatu yang biasa saja. Karena sejatinya kesulitan merupakan sebuah perubahan, perubahan dari sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan, menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, itu pulalah yang dinamakan sebagai penderitaan. Padahal jika dilihat, sebenarnya hal tersebut hanyalah sebuah proses perubahan semata.

Mortel (Kusuma, 2004) mengemukakan bahwa kegagalan adalah suatu proses yang perlu dihargai. Mortel juga berpendapat bahwa kegagalan hanyalah suatu pengalaman yang akan menghantar seseorang untuk mencoba berusaha lagi dengan pendekatan yang berbeda.

Menurut Lasmono (Jaffar, 2003), untuk menciptakan perubahan dalam hidup seseorang harus bertekad untuk terus mendaki melawan rintangan. Untuk itu individu harus mampu mengembangkan kecerdasan adversity yang tinggi dan mengenali tiga tahap adversity yang disusun dengan model piramid mulai dari dasar sebagai berikut:


1.    Societal Adversity: Ketidakjelasan tentang masa depan, kecemasan tentang keamanan ekonomi, meningkatnya kriminalitas, kerusakan lingkungan, bencana alam, serta krisis moral.
2.    Workplace Adversity: Peningkatan ketajaman terhadap pekerjaan, pengangguran dan ketidakjelasan mengenai apa yang akan dihadapi.
3.    Individual Adversity: Individu dapat memulai perubahan dan pengendalian.

 

 

C.    DIMENSI ADVERSITY QUOTIENT (AQ)
Dimensi AQ dapat diringkas dalam kata CO2RE yaitu:
1.    C adalah Control, seberapa besar control yang Anda rasakan saat Anda dihadapkan
pada persoalan yang sulit, bermusuhan dan berlawanan?
2.    O2 adalah Origin dan Ownership. Siapa atau apa yang menjadi asal muasal suatu kesulitan? Dan sejauh mana Anda berperan memunculkan kesulitan?
3.    R adalah Reach. Seberapa jauh suatu kesulitan akan merembes ke wilayah kehidupan Anda yang lain?
4.    E adalah Endurance. Berapa lama kesulitan akan berlangsung? Berapa lama penyebab kesulitan akan berlangsung? 

 

 


D.    MENGEMBANGKAN ADVERSITY QUOTIENT (AQ)
Cara mengembangkan dan menerapkan AQ dapat diringkas dalam kata LEAD yaitu:
1.    L adalah Listened (dengar) respon Anda dan temukan sesuatu yang salah
2.    E adalah Explored (gali) asal dan peran Anda dalam persoalan ini
3.    A adalah Analized (analisalah) fakta-fakta dan temukan beberapa factor yang mendukung Anda
4.    D= Do (lakukan) sesuatu tindakan nyata.

 

 


E.    ADVERSITY QUOTIENT (AQ) DI SEKOLAH
Paul Stoltz dalam bukunya menulis, Adversity Quotient di dunia pendidikan akan membuat guru memiliki dan mengembangkan daya tahan dan keuletan dalam hal menyampaikan pengetahuan yang bermakna dan bertujuan.”
Sungguh seorang guru dengan kecerdasan adversitas yang teruji akan mampu menghadapi segala dinamika yang terjadi dengan arifnya, tidak hanya dinamika di profesinya, bahkan juga dalam kehidupan pribadi. Ini pada gilirannya akan menjadi ‘virus’ yang menulari dan mengukir karakter para pembelajarannya.

 

 


F.    ILMU PENGETAHUAN PEMBENTUK ADVERSITY QUOTIENT (AQ)
a.    Psikoneuroimunologi
Penelitian akhir-akhir ini di bidang psikoneuroimunologi membuktikan bahwa ada kaitan langsung dan dapat diukur antara apa yang seseorang pikirkan dan rasakan dengan apa yang terjadi di dalam tubuh orang tersebut.

b.    Neurofisiologi
Menurut Dr. Mark Nuwer, kepala neurofisiologi di UCLA Medical Centers dalam Stoltz (2000:109), mengatakan bahwa proses belajar berlangsung di wilayah sadar bagian luar yaitu cerebral cortex. Lama kelamaan jika pola pikiran atau perilaku tersebut diulang maka kegiatannya akan berpindah ke wilayah otak bawah sadar yang bersifat otomatis, yaitu basal ganglia.
Jadi, semakin sering seseorang mengulangi pikiran atau tindakan yang destruktif, maka pikiran atau tindakan itu juga akan semakin dalam, semakin cepat, dan semakin otomatis. Begitu pun sebaliknya, semakin sering seseorang mengulangi pikiran atau tindakan yang konstruktif, maka pikiran atau tindakan itu juga akan semakin dalam, cepat, dan otomatis. Untuk merubah kebiasaan yang buruk atau destruktif, misalnya AQ rendah, maka seseorang harus mulai di wilayah sadar otak dan memulai jalur saraf baru. Perubahan dapat bersifat segera, dan pola-pola lama yang destruktif akan beratrofi dan lenyap karena tidak digunakan.

c.    Psikologi Kognitif
Bagian yang membahas tentang teori ketidakberdayaan yang dipelajari, atribusi, kemampuan menghadapi kesulitan, keuletan, dan efektifitas diri/pengendalian.

 

 

G. HUBUNGAN ADVERSITY QUOTIENT (AQ) dengan SUKSES

            Dalam kehidupan nyata, hanya para climbers-lah yang akan mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan sejati. Sebuah penelitian yang dilakukan Charles Handy terhadap ratusan orang sukses di Inggris memperlihatkan bahwa mereka memiliki tiga karakter yang sama.

Pertama, mereka berdedikasi tinggi terhadap apa yang tengah dijalankannya. Dedikasi itu bisa berupa komitmen ,passion, kecintaan atau ambisi untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik.

Kedua, mereka memiliki determinasi. Kemauan untuk mencapai tujuan, bekerja keras, berkeyakinan, pantang menyerah dan kemauan untuk mencapai tujuan yang diinginkannya.

Terakhir, selalu berbeda dengan orang lain. Orang sukses memakai jalan, cara atau sistem bekerja yang berbeda dengan orang lain pada umumnya.

Dari ciri-ciri tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa dua dari tiga karakter orang sukses erat kaitannya dengan kemampuan seseorang dalam menghadapi tantangan.

Penelitian longitudinal yang dilakukan oleh Thomas J Stanley (2003) yang kemudian ditulisnya dalam sebuah buku berjudul; “The Millionaire Mind” menjelaskan hal yang sama, bahwa mereka yang berhasil menjadi millioner di dunia ini adalah mereka dengan prestasi akademik biasa-biasa saja (rata-rata S1), namun mereka adalah pekerja keras, ulet, penuh dedikasi, dan bertanggung jawab, termasuk tanggung jawab yang sangat besar terhadap keluarganya.

H. IMPLEMENTASI ADVERSITY QUOTIENT (AQ)

            Dalam dunia pendidikan, kita bisa menggunakannya untuk menganalisa perbedaan para siswa yang manja dengan mereka yang terus berjuang. Para siswa yang malas dalam belajar dengan mereka yang gigih belajar. Para siswa yang suka menggunakan cara-cara curang dan instant untuk meraih nilai tinggi dan memastikan kelulusan dengan mereka yang tidak kenal lelah untuk terus mencoba dan terus bertahan. Walaupun mungkin nilai mereka jelek dan tidak lulus namun mereka terus mencoba dan terus mencoba lagi. Tentang bagaimana cara siswa dalam menetapkan tujuan, mengambil resiko, perjuangan meraih cita-cita serta persaingan dalam seleksi masuk perguruan tinggi.

            Untuk dunia pekerjaan dan kehidupan sangatlah jelas. Banyak pekerja yang intelektualnya (IQ) rendah bisa saja mengalahkan mereka yang ber IQ tinggi tetapi tidak punya semangat dan keberanian untuk menghadapi masalah dan bertindak. Dengan AQ dapat dianalisis bagaimana para karyawan / pekerja mampu mengubah tantangan menjadi sebuah peluang yang akan meningkatkan produktifitas dan keuntungan perusahaan.

 

“winner never quit and quitter never win”

(Nafis Mudrika)

 

 

 

Sumber:

http://id.shvoong.com/books/1855052-adversity-quotient-mengubah-hambatan-menjadi/#ixzz2EegJAFCv

http://images.nirwanalife.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/S-eNOAooCtYAADFiRvM1/kecerdasan-adversity.pdf?key=duniapsikologi:journal:100&nmid=338243350

 

Adversity Quotient

Setiap orang yang hidup didunia ini pasti selalu punya masalah, baik berupa masalah yang ringan maupun yang berat. Berbagai bentuk masalah seperti kegagalan dalam mencapai tujuan, mendapat hukuman karena berbuat salah, mengalami kecelakaan, mengidap penyakit yang sulit disembuhkan, menerima perlakuan yang tidak adil dari pihak lain, kehilangan pekerjaan dan sumber nafkah hidup, bubarnya perkawinan, kematian sahabat, dan berbagai musibah lainnya yang mungkin sedang dialami telah membuat banyak orang merasa tidak berdaya.

“When life hand you a lemon, squeeze it and make lemonade.” — W. Clement Stone

Adversity Quotient, merupakan suatu penilaian yang mengukur bagaimana respon seseorang dalam menghadapai masalah untuk dapat diberdayakan menjadi peluang. Adversity quotient dapat menjadi suatu tolak ukur seseorang bertahan dalam tantangan hidupnya, respon yang dilakukan seseorang dalam menghadapi permasalahan berbeda ada yang menyelesaikannya dan menjadi pemenang atas masalah tersebut, mundur di perjuangannya menghadapi tantangannya atau malah lari dari tantangan yang harus dihadapinya.

Adversity quotient menurut Paul G. Stoltz dalam bukunya adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.  
Menurut Markman (2005) memberikan pengertian tentang kecerdasan mengatasi kesulitan sebagai berikut: “Adversity intelligence (AI) is the science of human resilience, people who succesfully apply AI perform optimally in the face of adversity the challenges, big and small, that confront us each day. In fact, they not only learn from these challenges, but they also respond to them better and faster (Peaklearning.com.2005). 

Menurut Stoltz (1997) Adversity quotient dapat dilihat dalam tiga bentuk, yaitu :

· Adversity quotient adalah suatu konsep kerangka kerja guna memahami dan meningkatkan semua segi dari kesuksesan
· Adversity quotient adalah suatu pengukuran tentang bagaimana seseorang berespon terhadap kesulitan.
· Adversity quotient merupakan alat yang didasarkan pada pengetahuan sains untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam berespon terhadap kesulitan.

Dalam konsep Adversity quotient, hidup diumpamakan sebagai suatu pendakian.
Kesuksesan adalah sejauh mana individu terus maju dan menanjak, terus berkembang sepanjang hidupnya meskkipun berbagai kesulitan dan hambatan menjadi penghalang (Stoltz, 1997).

Peran Adversity quotient sangat penting dalam mencapai tujuan hidup atau mempertahankan visi seseorang, Adversity quotient digunakan untuk membantu individu memperkuat kemampuan dan ketekunannya dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari, sambil berpegang pada prinsip dan impian yang mejadi tujuan. Dalam Adversity Quotient, kelompok atau tipe orang/individu dapat dibagi menjadi tiga bagian, dimana hal ini melihat sikap dari individu tersebut dalam menghadapi setiap masalah dan tantangan hidupnya. Kelompok/tipe individu tersebut, antara lain adalah:

– Quiters – 
Merupakan kelompok orang yang kurang memiliki kemauan untuk menerima tantangan dalam hidupnya. Hal ini secara tidak langsung juga menutup segala peluang dan kesempatan yang datang menghampirinya, karena peluang dan kesempatan tersebut banyak yang dibungkus dengan masalah dan tantangan.Adapun ciri – ciri dari sifat Quiters ini adalah:
– Gaya hidupnya tidak menyenangkan atau datar dan tidak “lengkap”
– Bekerja sekedar cukup untuk hidup, cenderung menghindari tantangan berat yang muncul dari komitmen yang sesungguhnya.
– Jarang sekali memiliki persahabatan yang sejati, dalam menghadapi perubahan mereka cenderung melawan atau lari dan cenderung menolak perubahan.
– Terampil dalam menggunakan kata-kata yang sifatnya membatasi, seperti “tidak mau”, “mustahil”, “ini konyol” dan sebagainya.
– Mereka tidak memiliki visi dan keyakinan akan masa depan dan konribusinya sangat kecil.
Tipe quiter cenderung untuk menolak adanya tantangan serta masalah yang membungkus peluang tersebut.

 

– Campers – 
Merupakan kelompok orang yang sudah memiliki kemauan untuk berusaha menghadapi masalah dan tantangan yang ada, namun mereka melihat bahwa perjalanannya sudah cukup sampai disini. seorang Campers biasanya seperti uraian dibawah ini ;
– Mereka cukup puas telah mencapai suatu tahapan tertentu (satisficer)
– Masih memiliki sejumlah inisiatif, sedikit semangat, dan beberapa usaha.
– Mengorbankan kemampuan individunya untuk mendapatkan kepuasan dan mampu membina hubungan dengan para camper lainnya.
– Menahan diri terhadap perubahan, meskipun kadang tidak menyukai perubahan besar karena mereka merasa nyaman dengan kondisi yang ada
– Mereka menggunakan bahasa dan kata-kata yang kompromistis,misalnya, “ini cukup bagus”, atau “kita cukuplah sampai di sini saja”.
– Prestasi mereka tidak tinggi dan kontribusinya tidak besar juga kelompok ini sudah berjuang menghadapi berbagai masalah yang ada dalam suatu pergumulan/bidang tertentu, namun karena adanya tantangan dan masalah yang terus menerjang, mereka memilih untuk berhenti di tengah jalan dan berkemah.

 

– Climbers – 
Merupakan kelompok orang yang memilih untuk terus bertahan untuk berjuang menghadapi berbagai macam hal yang akan terus menerjang, baik itu dapat berupa masalah, tantangan, hambatan, serta hal – hal lain yang terus dapat setiap harinya. mereka adalah :
– Pemikir yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan.
– Hidupnya “lengkap” karena telah melewati dan mengalami semua tahapan sebelumnya.
– Mereka menyadari bahwa akan banyak imbalan yang diperoleh dalam jangka panjang melalui “langkah-langkah kecil” yang sedang dilewatinya.
– Menyambut baik tantangan, memotivasi diri, memiliki semangat tinggi, dan berjuang mendapatkan yang terbaik dalam hidup.
– Mereka cenderung membuat segala sesuatu terwujud
– Tidak takut menjelajahi potensi-potensi tanpa batas yang ada di antara dua manusia; memahami dan menyambut baik risiko menyakitkan yang ditimbulkan karena bersedia menerima kritik.
– Menyambut baik setiap perubahan, bahkan ikut mendorong setiap perubahan tersebut ke arah yang positif.

-Bahasa yang digunakan adalah bahasa dan kata-kata yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan; mereka berbicara tentang apa yang bisa dikerjakan dan cara mengerjakannya; mereka berbicara tentang tindakan, dan tidak sabar dengan kata-kata yang tidak didukung dengan perbuatan
– Memberikan kontribusi yang cukup besar karena bisa mewujudkan potensi yang ada pada dirinya – Mereka tidak asing dengan situasi yang sulit karena kesulitan merupakan bagian dari hidup.
Kelompok ini memilih untuk terus berjuang tanpa mempedulikan latar belakang serta kemampuan yang mereka miliki, mereka terus mendaki dan mendaki.

 

Adversity Quotient memiliki 4 dimensi yang masing – masing merupakan bagian dari sikap seseorang menghadapai masalah. Dimensi – dimensi tersebut antara lain adalah:

1. C = Control Menjelaskan mengenai bagaimana seseorang memiliki kendali dalam suatu masalah yang muncul. Apakah seseorang memandang bahwa dirinya tak berdaya dengan adanya masalah tersebut, atau ia dapat memengang kendali dari akibat masalah tersebut.

2. Or = Origin Menjelaskan mengenai bagaimana seseorang memandang sumber masalah yang ada. Apakah ia cenderung memandang masalah yang terjadi bersumber dari dirinya seorang atau ada faktor – faktor lain diluar dirinya Ow = Ownership Menjelaskan tentang bagaimana seseorang mengakui akibat dari masalah yang timbul. Apakah ia cenderung tak peduli dan lepas tanggung jawab, atau mau mengakui dan mencari solusi untuk masalah tersebut.

3. R = Reach Menjelaskan tentang bagaimana suatu masalah yang muncul dapat mempengaruhi segi-segi hidup yang lain dari orang tersebut. Apakah ia cenderung memandang masalah tesebut meluas atau hanya terbatas pada masalah tersebut saja.

4. E = Endurance Menjelaskan tentang bagaimana seseorang memandang jangka waktu berlangsungnya masalah yang muncul. Apakah ia cenderung untuk memandang masalah tersebut terjadi secara permanen dan berkelanjutan atau hanya dalam waktu yang singkat saja.
Keseluruhan nilai dari dimensi ini akan menentukan nilai dari Adversity Quotient seseorang.

 

Sumber: http://id.shvoong.com/books/1855052-adversity-quotient-mengubah-hambatan-menjadi/#ixzz2EegJAFCv http://images.nirwanalife.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/S-eNOAooCtYAADFiRvM1/kecerdasan-adversity.pdf?key=duniapsikologi:journal:100&nmid=338243350